Oleh: Ary Mampas Wartawan dan Penulis Dari Jantung Borneo yang Berkabut Asap….
Lihat poster itu. Seorang anak muda berambut gondrong, berbaju merah JURNAL TV, menunjuk ke sebuah peta bernama KALIMANTAN. Di sampingnya ada Orang Utan yang duduk lesu, Bekantan yang kebingungan, dan Burung Enggang yang terbang tanpa tujuan. Di atas kepalanya tertulis dengan huruf besar berdarah: “RUMAHKU DIBAKAR.”

Itu bukan poster. Itu adalah cermin. Itu adalah Saya ,itu adalah kita….
“Tuan-Tuan Yang Terhormat, Rumah Kami Dibakar !
Setiap kemarau datang, langit Buntok, Muara Teweh,Kapuas Palangka Raya, Sampit , Pangkalan Bu ,tidak lagi biru. Ia berubah menjadi kanvas oranye keabu-abuan. Matahari menjadi bola merah yang malu-malu menampakkan diri di balik pekatnya asap.
Anak-anak kami sekolah, PNS,Buruh Tani,Nelayan dengan masker. Bukan gaya-gayaan. Paru-paru mereka sesak. Nenek-nenek kami batuk di dalam rumah panggung yang kayunya pun berasal dari hutan yang kini kau bakar. Ibu-ibu hamil menghirup racun setiap detik. Ini bukan bencana alam. Ini adalah bencana keserakahan!
Kalian bilang ini karena el nino. Kalian bilang ini karena oknum. Kalian bilang ini tidak sengaja.
Coba katakan itu di depan Orang Utan itu! Coba jelaskan kata “oknum” kepada bayi Orang Utan yang mati terpanggang karena tidak sempat turun dari pohon yang kalian sulut apinya! Apakah dia mengerti apa itu oknum? Tidak. Yang dia tahu, rumahnya, satu-satunya rumah yang dia kenal sejak lahir, telah kalian bakar!
Coba jelaskan “lahan tidak produktif” kepada Bekantan yang hidungnya yang indah itu kini penuh jelaga. Habitatnya di tepi Sungai Barito, yang menjadi tempatnya mencari makan dan berkembang biak, kini menjadi abu. Dimana dia mau cari makan? Mau makan abu? Mau makan janji-janji investasi?
Dan Burung Enggang, burung suci bagi Suku Dayak, lambang kesetiaan dan kebijaksanaan. Ia terbang tinggi mencari pohon besar untuk bersarang, tapi pohon-pohon besar itu sudah tumbang, sudah menjadi sawit yang berbaris rapi milik siapa? Bukan milik kami.
“Dimana Aku Tinggal? Dimana Aku Cari Makan?”
Ini bukan pertanyaan puitis. Ini pertanyaan perut. Pertanyaan hidup dan mati.
Bagi orang di Jakarta, Kalimantan adalah angka. Berapa ribu hektar konsesi. Berapa ton CPO. Berapa triliun investasi. Berapa persen pertumbuhan ekonomi.
Bagi kami di sini, di Barito Selatan, Kalimantan adalah DAPUR.
Hutan adalah kulkas kami. Di sana ada ikan lais, ikan baung, ikan haruan di Sungai Barito. Hutan adalah apotek kami. Akar kuning, pasak bumi, gaharu, semua obat ada di sana. Hutan adalah pasar kami. Rotan untuk anyaman, karet untuk sekolah anak, madu hutan untuk lauk. Hutan adalah gereja dan mesjid kami. Di sanalah kami berdoa kepada Ranying Hatalla Langit.
Ketika kalian bakar hutan, kalian tidak hanya membakar pohon. Kalian membakar kulkas kami. Kalian membakar apotek kami. Kalian membakar mesjid kami! Lalu dengan enteng kalian bertanya, kenapa masyarakat lokal miskin?
Bagaimana tidak miskin kalau ladang pencarian makannya kalian bakar setiap tahun?
“Save Kalimantan Bukan Konten, Tapi Jeritan Terakhir !
Jangan jadikan tagar #SaveKalimantan hanya sebagai konten Instagram yang estetik. Jangan jadikan poster Orang Utan, Bekantan, Enggang hanya sebagai gambar lucu untuk kaos.
Ini adalah JERITAN TERAKHIR sebelum semuanya benar-benar hilang.
Kami tidak anti pembangunan. Kami tidak anti investasi. Kami Dayak, kami sangat terbuka. Tapi pembangunan apa yang dibangun di atas abu rumah kami sendiri?
Kami butuh keadilan ekologis.
1.Tegakkan Hukum Tanpa Tawar ! Jangan hanya petani kecil yang membakar 2 hektar yang ditangkap dan difoto. Tangkap dan penjarakan korporasi yang membakar 2.000 hektar! Berani ?
2.Kembalikan Hutan Kepada Penjaganya ! Berikan hak kelola hutan adat yang jelas kepada masyarakat Dayak. Kami yang menjaga hutan ini ribuan tahun, bukan 20 tahun sejak izin konsesi terbit.
3.Hentikan Kebohongan Karbon ! Jangan jual cerita “sawit berkelanjutan” sementara asapnya menyesakkan kami. Dunia boleh tertipu, tapi paru-paru kami tidak bisa dibohongi.
Saya menulis ini dengan dada sesak. Bukan hanya karena asap. Tapi karena rasa takut. Takut bahwa 10 tahun lagi, ketika anak saya bertanya, “Yah, Orang Utan itu seperti apa?”, saya hanya bisa menunjukkan poster ini dan berkata, “Dulu ada di hutan kita, Nak. Sebelum rumahnya dibakar.”
Jangan biarkan poster ini menjadi nisan.
Jangan biarkan Kalimantan hanya tinggal nama di dalam peta yang ada di pojok poster itu.
Rumahku dibakar. Rumahmu dibakar. Rumah kita semua dibakar.
Jika rumahmu dibakar, dimana kamu akan tinggal? Jika hutanku dibakar, dimana aku akan cari makan?
Aku tidak pernah bosan Menulis ini apakah aku harus berteriak di depan Radio di depan Televisi..???
Jawab !!!
