“BREAKING NEWS: HELIKOPTER WATER BOMBING DIDUGA JATUH DI TABATAN SUNGAI BARITO, JENAMAS BARSEL “
Buntok BarselOne,- Informasi masuk dari masyarakat menyebutkan sebuah helikopter water bombing diduga jatuh di perairan Tabatan, Sungai Barito, Kecamatan Jenamas, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, pada Minggu, 8 November 2026.
Laporan awal tersebut beredar melalui pesan berantai dan media sosial. Salah satu unggahan menyebutkan, “BREAKING NEWS, Saat ini informasi masuk HELIKOPTER Water Bombing JATUH, Di Tabatan Sungai Barito. Rekaman video amatir dari warga, untuk informasi lengkapnya menyusul.”

Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi yang memastikan kronologi lengkap, penyebab, jumlah kru, maupun kondisi korban dalam peristiwa tersebut. Redaksi masih menunggu konfirmasi resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, BPBD, TNI, Polri, maupun operator helikopter terkait.
Masyarakat diimbau untuk tidak menyimpulkan secara sepihak dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama terkait nama korban maupun kondisi kru.
Berdasarkan tangkapan layar dengan keterangan GPS Map Camera yang beredar, lokasi pengambilan gambar berada di Tabatan, Kecamatan Jenamas, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah 73593.
Data tersebut mencantumkan titik koordinat Lat -2.561272, Long 114.832477, dengan waktu Minggu, 08/11/2026, pukul 01.03 PM GMT +08.00.
Dalam foto tersebut, terlihat sejumlah warga berkumpul di tepian Sungai Barito. Beberapa perahu kelotok tampak berada di sungai, sementara warga lainnya terlihat berdiri di tepi sungai yang ditumbuhi tumbuhan eceng gondok. Suasana di lokasi tampak ramai, warga tampak memperhatikan ke arah sungai.
Lokasi Tabatan sendiri merupakan kawasan di aliran Sungai Barito yang dikenal sebagai jalur transportasi air warga. Sungai Barito di wilayah Jenamas memiliki arus yang cukup deras dan lebar, sehingga proses pencarian maupun evakuasi, jika benar terjadi kecelakaan air, tentu membutuhkan kehati-hatian dan peralatan yang memadai.
Dari data yang diperoleh, helikopter yang diduga terlibat dalam peristiwa ini memiliki spesifikasi sebagai berikut:
– Jenis Pesawat: Eurocopter EC225LP Super Puma II+ (Airbus Helicopters H225) dengan nomor seri (MSN) 2878
– Registrasi: VH-HGM
– Operator / Penggunaan: Sering dioperasikan untuk misi BNPB di Indonesia melalui ARC Aviation, serta memiliki catatan penerbangan di wilayah Indonesia, seperti Banjarmasin/BDJ, Pontianak/Supadio, dan Surabaya
– Pemilik / Registrasi: Terdaftar di bawah kepemilikan privat / EJA SDN. BHD.
Dalam foto dokumentasi yang beredar, helikopter tersebut tampak berwarna putih dengan tulisan BNPB di bagian badan dan logo ARC Helicopters di bagian pintu. Helikopter jenis ini memang kerap digunakan dalam operasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk untuk patroli udara dan water bombing.
Water bombing sendiri adalah metode pemadaman karhutla dari udara dengan cara mengambil air dari sungai, danau, atau sumber air lainnya, lalu menjatuhkannya ke titik api yang sulit dijangkau tim darat.
Di Kalimantan Tengah, operasi water bombing menjadi sangat penting pada musim kemarau ketika titik api bermunculan di berbagai wilayah. Helikopter harus terbang rendah di atas permukaan air untuk mengisi bucket atau ember air, sebuah manuver yang memiliki risiko tinggi dan membutuhkan keahlian khusus.
Selain laporan awal, beredar pula pesan suara maupun pesan teks dari warga dalam bahasa Banjar. Salah satu pesan yang diteruskan menyebutkan, “Bubuhannya kadada nang mangarti pilotnya bapander … jonk…” yang secara bebas dapat dimaknai bahwa warga di lokasi belum mengetahui secara pasti kondisi pilotnya.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa pada saat-saat awal kejadian, informasi di lapangan masih sangat terbatas dan simpang siur. Warga yang berada di lokasi umumnya hanya melihat dari kejauhan, sementara detail tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam kokpit maupun kondisi kru belum dapat dipastikan.
Hal ini wajar terjadi dalam fase awal sebuah peristiwa kecelakaan udara. Informasi yang paling akurat biasanya baru bisa disampaikan setelah tim resmi tiba di lokasi, melakukan olah tempat kejadian, dan melakukan pendataan terhadap kru maupun saksi.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk membedakan antara laporan awal dari warga dengan keterangan resmi dari instansi berwenang.
Berdasarkan data yang diperoleh hingga saat ini beredar:
1. Ada laporan masuk dari warga tentang helikopter water bombing yang diduga jatuh di Tabatan, Sungai Barito, Kecamatan Jenamas.
2. Lokasi yang disebutkan berada di wilayah Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
3. Waktu yang tercantum pada data GPS adalah Minggu, 8 November 2026, pukul 13.03 WITA.
4. Helikopter yang diduga terlibat memiliki registrasi VH-HGM, jenis Airbus H225 / EC225LP Super Puma II+.
5. Warga berkumpul di tepian sungai dan di atas perahu untuk menyaksikan dan membantu.
1.Penyebab helikopter diduga jatuh, apakah karena gangguan teknis, cuaca, kesalahan manuver saat mengambil air, atau faktor lainnya.
2.Jumlah kru yang berada di dalam helikopter saat kejadian.
3.Kondisi kru, apakah selamat, luka-luka, atau ada korban jiwa.
4.Apakah helikopter tenggelam sepenuhnya, sebagian masih terlihat, atau sudah berhasil dievakuasi.
5.Apakah sudah ada tim SAR gabungan yang tiba di lokasi dan bagaimana perkembangan proses evakuasi.
Redaksi BarselOne menegaskan, seluruh poin yang belum terkonfirmasi tersebut tidak akan disimpulkan sebelum ada keterangan resmi.
Peristiwa ini, jika terkonfirmasi, menambah daftar panjang risiko dalam operasi penanggulangan karhutla di Kalimantan Tengah. Operasi water bombing bukan pekerjaan ringan.
Pilot harus mampu menjaga ketinggian yang sangat rendah di atas sungai, mengendalikan helikopter agar tetap stabil saat bucket menyentuh air dan terisi penuh, lalu kembali naik dengan beban yang tiba-tiba bertambah berat. Pada saat yang sama, pilot juga harus memperhatikan arus angin, kondisi cuaca, pepohonan di tepian sungai, serta perahu warga yang melintas.
Dalam beberapa tahun terakhir, operasi karhutla di Kalimantan Tengah telah melibatkan berbagai unsur, mulai dari BNPB, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, hingga relawan dan masyarakat. Kerja sama tersebut sangat penting karena karhutla tidak hanya merusak hutan dan lahan, tetapi juga menimbulkan kabut asap yang mengganggu kesehatan, pendidikan, transportasi, dan perekonomian masyarakat.
Karena risikonya yang tinggi, setiap kecelakaan dalam operasi karhutla selalu menjadi perhatian serius, baik bagi instansi terkait maupun masyarakat luas.
Hingga berita ini diturunkan, BarselOne masih berupaya menghubungi pihak-pihak terkait untuk mendapatkan konfirmasi resmi. Informasi lanjutan akan disampaikan setelah ada keterangan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Perkembangan terbaru akan terus diperbarui, termasuk jika sudah ada pernyataan resmi mengenai kronologi, kondisi kru, maupun langkah evakuasi yang dilakukan tim SAR gabungan di Tabatan, Sungai Barito ( Ary Mampas)
