“Oleh: Ary Mampas Wartawan dan Penulis”
Saya berdiri di atas bukit kecil di Bundaran Simpang Tiga Buntok, di Tugu Malawen.

Di pundak saya, handycam yang beratnya sudah hafal dengan bahu saya. Di depan saya, langit sore tidak lagi biru. Ia jingga. Bukan jingga senja yang indah, tapi jingga karena asap yang mengepung.
Orang bertanya, “Apa yang Pian lihat di sana?”
“Saya tidak buta.”
Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, hutan yang dulu rimbun tempat kami kecil bermain, mencari buah Musisin, Jambu Monyet, kini tinggal tunggul hitam yang meranggas. Saya melihat Sungai Barito yang dulu jernih, kini coklat kehitaman membawa abu. Saya melihat anak-anak sekolah memakai masker kebesaran, mata mereka memerah menahan perih.
Saya tidak buta. Kamera saya merekamnya. Semua terekam.
Orang bertanya lagi, “Apa yang Pian dengar?”
“Saya tidak tuli.”
Saya mendengar batuk ibu-ibu di warung kopi pagi-pagi. Batuk yang berat dan panjang. Saya mendengar keluh kawan-kawanku petani di Rubang, Mabuan, Kalahien, Penda Asam, “Padi tahun ini gagal, Pak Wartawan, habis dimakan api.” Saya mendengar tangis anak kecil sesak napas tengah malam, dibawa bapaknya menembus kabut mencari Puskesmas.
Saya tidak tuli. Microphone saya merekamnya. Semua terekam.
Lalu orang bertanya sinis, “Kalau melihat dan mendengar, kenapa diam saja?”
“Demi Tuhan, saya tidak bisu.” !!!
Tapi apalah daya saya. Saya hanya wartawan. Saya hanya penyambung. Saya hanya pewarta.
Saya tidak punya kuasa memadamkan api dengan tangan saya. Tidak punya jabatan menghentikan alat berat yang merangsek hutan. Tidak punya uang mengganti kerugian petani gagal panen.
Yang saya punya hanya ini: kamera, pena, dan hati nurani.
Dan karena itulah hari ini saya bersuara lantang: “Saya mendukung penuh agar Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah segera mendorong penetapan Gawat” Nasional.”
Kenapa harus Darurat Nasional? Karena apa yang saya lihat dan saya dengar selama 17 tahun sejak 2009 ini sudah melampaui kemampuan daerah.
Kalimantan Tengah adalah paru-paru dunia. Ketika paru-paru ini rusak, yang sesak bukan hanya kami di Barsel, di Palangkaraya, tapi seluruh Indonesia. Penanganannya tidak bisa lagi hanya mengandalkan APBD.
Darurat Nasional akan membuka pintu: anggaran pusat turun tanpa birokrasi berbelit, BNPB, TNI, Polri bergerak dengan komando penuh, dan pemulihan ekonomi warga dipercepat.
Banyak yang bilang, “Sudahlah, jangan diliput, nanti tidak enak dengan si anu.”
Maaf. Kalau saya diam, lalu siapa yang bersuara? Wartawan daerah seperti saya serba salah. Diliput, dimusuhi. Tidak diliput, hati nurani yang menghukum seumur hidup.
Saya menulis ini bukan untuk menyalahkan siapa-siapa. Saya menulis karena lelah melihat langit jingga itu terus-menerus…Saya sudah Peda “Uyuh Saya ” !!!
Saya hanya ingin menitip pesan: Jika hutan ini terus dibakar, asap ini akan sampai ke paru-paru anak cucu kita. Asap tidak memilih, dia anak pejabat atau anak petani.
Saya di Barito Selatan akan tetap berdiri. Dengan handycam besar di pundak, dengan baju putih penuh debu dan keringat, saya akan tetap merekam.
Karena saya tidak buta.
Saya tidak tuli.
Saya tidak bisu.
Saya hanya wartawan. Tapi saya percaya, kebenaran itu seperti asap. Sekuat apapun kau tutupi, ia akan tetap membubung ke langit dan terlihat semua orang.
Dari Barito Selatan yang berasap, saya tidak akan pernah menyerah. Dan untuk itu, saya mendesak: Tetapkan Kalimantan Tengah Darurat Nasional, Sekarang !!!

