Oleh: Ary Mampas
Di tengah antrean panjang BBM yang mengular dari ujung Jalan Karau hingga simpang Jalan Agung, Kecamatan Dusun Selatan, ada pemandangan yang sering disalahpahami.
Mereka adalah para “pelangsir”. Mengendarai motor butut dan mobil seken, membawa jeriken, berjam-jam antre demi beberapa liter minyak. Bagi sebagian orang mereka dianggap pengganggu. Tapi bagi desa-desa di pedalaman Barito Selatan, merekalah Pahlawan ekonomi kecil. 1.”Bedakan Pelangsir dan Penimbun”
Pemerintah perlu tegas membedakan.
“Penimbun” punya bunker, tangki besar, dan tujuan memperkaya diri dengan mempermainkan harga.
“Pelangsir” Tidak. Mereka beli pakai modal seadanya di SPBU, bukan mencuri. Mereka ecer kembali ke desa-desa karena di kampung tidak ada SPBU. Harga memang naik sedikit, tapi itu untuk ongkos, risiko, dan waktu yang mereka keluarkan.
Mereka bukan mafia BBM. Mereka adalah roda ekonomi mikro.
2.”Mengurangi Pengangguran, Menjawab Kebutuhan Desa”
Di Barito Selatan lapangan kerja terbatas. Menjadi pelangsir adalah pilihan realistis,ada Pensiunan PNS,BUMD,Pensiunan,TNI,POLRI , semua yang dilakukannya karena jeritan, tangisan,teriakan keluarga. Dari kegiatan inilah puluhan bahkan ratusan kepala keluarga bisa makan.
Lebih dari itu, pelangsir menjawab kebutuhan dasar masyarakat desa: petani butuh solar untuk mesin traktor, nelayan butuh bensin untuk perahu, ibu-ibu butuh minyak untuk genset saat listrik padam. Kalau tidak ada pelangsir, siapa yang mau repot-repot antar minyak sampai ke pedalaman dengan jalan rusak, hujan ?
Mereka hadir karena ada kebutuhan. Mereka bergerak karena Negara belum hadir merata. 3.”Saatnya Pemerintah Hadir Mendukung, Bukan Menindak”
Kami tidak minta dilegalkan secara liar. Kami minta “dikelola dengan bijak”.
Saya yakin Pemerintah Kabupaten Barito Selatan bisa:
1.”Membuat skema “Pangkalan Eceran Resmi” untuk pelangsir yang terdaftar. Dengan dibina, diberi kuota khusus.
2.”Menambah jam operasional SPBU” atau membuka SPBU mini di kecamatan rawan antrean seperti Dusun Selatan.
3.”Membedakan regulasi” antara penimbun skala besar dengan pelangsir skala kecil yang tujuannya untuk kebutuhan masyarakat.
Jangan samaratakan semua. Kasihan jika niat baik untuk menghidupi keluarga justru dianggap kriminal.
Antrean panjang di SPBU adalah bukti nyata: BBM adalah kebutuhan pokok. Pelangsir yang berdiri berjam-jam dengan kuda besinya di bawah panas bukan untuk memperkaya diri. Mereka berjuang demi tuntutan hidup, demi anak sekolah, demi dapur tetap ngebul.
Mereka bukan penimbun. Mereka pejuang ekonomi akar rumput.
Sudah saatnya Pemerintah Barito Selatan melihat mereka sebagai “Mitra”, bukan musuh. Dukung, atur, dan bina. Karena jika mereka berhenti, maka roda ekonomi desa juga akan berhenti.
“Hidup ini butuh solar, butuh bensin, dan butuh keadilan kebijakan” Semoga#duhupwargauluhitah#uluntakam#wargaitahkia# 🤝🤝🤝

