“Oleh: Ary Mampas -Wartawan dan Penulis.
Jika ditanya apa memori paling membekas saat saya SMA di SMA Kristen Banjarmasin Jalan S. Parman tahun 1991, jawabannya bukan di kelas. Melainkan di jalan.
Ada beberapa kali saat liburan sekolah, saya bersama kawan-kawan naik motor GL atau Astrea butut dari Banjarmasin menuju Kapuas. Jalan masih berbatu, berdebu, jembatan masih banyak dari kayu. Tidak ada HP, tidak ada Google Maps. Bekal kami hanya bensin full dan niat melepas kepenatan.

Dan setiap kali lewat Kapuas Barat, kami selalu punya ritual yang sama: singgah, melepas lelah di Gereja GKE Imanuel Mandomai.
Kami parkir motor di halaman gereja. Gereja putih dengan tiga menara yang menjulang di tepi Sungai Kapuas itu tampak seperti istana kayu dari dongeng. Pintunya besar, jendelanya lengkung, tiang-tiangnya dari kayu ulin yang hitam keras. Kami duduk di tangga depan, memandang Sungai Kapuas yang mengalir tenang, mendengar angin berdesir di antara celah kayu.
Waktu itu kami tidak tahu bahwa bangunan yang kami duduki itu adalah salah satu gereja tertua di Kalimantan. Kami tidak tahu bahwa gereja itu dibangun dengan gaya Indische, perpaduan cerdas antara arsitektur Eropa dengan kearifan lokal Dayak. Kami tidak tahu bahwa di dalam altar ada tiga kaca mozaik yang dibuat di Jerman pada tahun 1910 oleh perusahaan Ferdinand Müller di Quedlinburg, yang dikirim berbulan-bulan lewat laut hingga ke pedalaman Kapuas. Kami juga belum tahu bahwa di sebelah kanan gereja, di dalam pagar putih berkubah kuning, ada makam pendirinya, Pendeta C.C. Hendrich, seorang misionaris Zending Barmen asal Jerman yang tiba di Mandomai pada tahun 1869.
Bagi kami anak SMA tahun 1991, gereja itu hanya “rumah tua yang adem.” Tempat paling sejuk untuk minum air dari botol dan bercanda.
“Namun cerita tidak berhenti di gereja.”
Setelah puas di gereja, kami selalu bergeser beberapa puluh meter ke tempat yang bagi kami lebih hidup: Barak siswa STM Mandomai.
Di sinilah jantung sesungguhnya dari Mandomai yang kami kenal.
Barak itu sederhana, bangunan kayu panjang dengan atap seng. Tapi dari dalamnya terdengar suara yang tidak akan pernah saya lupa: deru mesin serut, bunyi palu, dan aroma vernis kayu yang menyengat. Puluhan siswa STM dengan seragam lusuh sedang tekun membuat perabot: meja, kursi, lemari, kusen pintu, jendela.
STM Mandomai pada masa itu bukan sekolah kaleng-kaleng. Ia adalah sekolah kejuruan tertua yang menciptakan para ahlinya di bidang meubel. Lulusannya tidak menganggur.
Tidak heran jika hari ini, banyak lulusan STM Mandomai yang sukses bekerja di beberapa kantor PUPR Palangka Raya, Buntok, Kapuas, dan bahkan sampai ke Banjarmasin. Mereka menjadi tukang terbaik, pengawas bangunan terbaik, pembuat perabot rumah tangga terbaik. Ukurannya presisi, sambungannya kuat, hasilnya rapi. Kenapa? Karena instruktur dan gurunya dulu para Bule, para misionaris Jerman dan Swiss dari Basler Mission yang mengajarkan etos kerja: kerja harus jujur, kerja harus teliti, kerja adalah ibadah.
Teringat dulu saat liburan sekolah kawan-kawan berdatangan,aku tanya ” STM kueh,dia jawab STM Mandomai ” nah di pikiran ku mereka ini orang-orang hebat, tukang-tukang didikan Bule,dan saat saya membuat tulisan ini aku teringat ada teman ku bernama ” Deden Lihi.Binti dialah salah satu tukang yang hebat hasil karyanya jangan ditanya lagi” Tukang lulusan STM Mandomai,dan aku tanyakan Deden ” Ingatkah kawan-kawan lulusan STM Mandomai, tidak lama Deden kirimkan nama-nama tukang lulusan STM Mandomai,adalagi salah satu nama dia itu teman ku juga ” Dedung ” juga pegawai Negeri di kantor PUPR Barito Selatan , ini adalah salah satu Tukang lulusan STM Mandomai,Putera terbaik dan pintar, Degung adalah orang andalan Pimpinan nya dengan karyanya yang tidak pernah dipermasalahkan, sekarang jadi orang yang sukses..Nah.. dengan mengingat alumni STM Mandomai itu saya berfikir bahwa
Gereja dan STM adalah satu paket visi. Para zendeling Jerman dulu datang ke tanah Dayak tidak hanya membawa Alkitab. Mereka membawa sekolah, mereka membawa gergaji, mereka membawa pahat. Mereka tahu, iman tanpa keterampilan adalah kosong. Maka di Mandomai mereka membangun dua hal sekaligus: Gereja untuk mendidik jiwa, dan STM / Barak pertukangan untuk mendidik tangan.
Dari Mandomai-lah, masyarakat Dayak Ngaju di Kapuas Barat pertama kali mengenal baca-tulis, mengenal sekolah formal, dan mengenal pertukangan modern. Banyak mantir adat dan damang pada masa itu disekolahkan di sini.
“35 Tahun Kemudian, Rumah Tua Itu Menjadi Cagar Budaya”
Kini, tahun 2026, 35 tahun setelah petualangan naik motor anak SMA itu, saya membaca berita dengan dada bangga: Gereja Imanuel Mandomai resmi diakui sebagai cagar budaya.
Akhirnya. Rumah tua tempat kami dulu berteduh itu diakui negara.
Saya bangga, karena bangunan itu layak. Ia bukan hanya tempat ibadah. Ia adalah penanda peradaban. Ia menyimpan cerita tentang iman, pendidikan, serta peran sosial yang mempersatukan suku Dayak di masa lalu hingga kini. Kayu ulinnya masih kokoh, menara minaretnya masih menjulang, kaca mozaik Jermannya masih memantulkan cahaya warna-warni di pagi hari.
Pengakuan sebagai cagar budaya ini seharusnya menjadi pintu pembuka.
Mungkin masih banyak yang belum tercatat dan tergali, bangunan tua bersejarah di tempat kita Kalimantan Tengah ini. Di sepanjang Sungai Kapuas, Sungai Barito, Sungai Kahayan, saya yakin masih banyak rumah panggung kayu ulin peninggalan Belanda, sekolah-sekolah misi, asrama-asrama zending, dan barak-barak STM tua seperti di Mandomai yang kondisinya memprihatinkan, bahkan hampir roboh.
Jika kita bisa merawat Gereja Imanuel Mandomai yang berdiri sejak 1869, kenapa kita tidak bisa merawat barak-barak STM di sebelahnya? Jika makam Pendeta C.C. Hendrich saja masih terjaga rapi di sebelah kanan gereja sebagai penanda awal penyebaran Injil, kenapa kita membiarkan alat-alat pertukangan bersejarah dan meubel-meubel buatan siswa STM pertama hilang tanpa jejak?
“Pesan untuk Pemerintah dan Generasi Muda”
Saya menulis ini bukan sebagai sejarawan. Saya hanya wartawan dan penulis pernah sekolah di SMA Kristen S. Parman tahun 1991 yang pernah singgah.
Tapi saya ingin menitip pesan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalteng, kepada Pemkab Kapuas, dan kepada generasi muda Kapuas:
Jagalah Mandomai. Jangan hanya gerejanya yang dipoles. Jagalah ceritanya secara utuh.
Buatlah paket wisata religi dan edukasi: Gereja tua Imanuel Mandomai – Makam C.C. Hendrich 1869 – Tiga Kaca Mozaik 1910 dari Jerman – dan Barak STM Meubel yang legendaris. Ceritakan kepada anak-anak di Kalimantan Tengah dan khususnya di Kapuas hari ini,bahwa di desa kecil bernama Saka Mangkahai itu, pernah ada orang-orang Jerman yang menyeberangi samudra untuk mengajari kakek buyut kita cara membaca dan cara membuat meja yang kuat.
Karena bagi saya, Mandomai mengajarkan satu hal penting: rumah tua tidak pernah benar-benar tua jika ia terus mendidik orang.
Gereja itu mendidik iman kami. Barak STM itu mendidik keterampilan kami. Dan keduanya, hingga hari ini, mendidik ingatan kami untuk tidak melupakan dari mana kami berasal.
“Kapuas Barat akan selalu punya tempat di hati anak-anak motor tahun 1991 itu.”
Buntok, Sabtu 31 Oktober 2026 : Ary Mampas Wartawan dan Penulis..

