Buntok BarselOne,&
Di tengah derasnya arus globalisasi, seorang pegiat literasi asal Barito Selatan, Norhasanah yang akrab disapa Syasa Azim, menggagas inovasi untuk membentengi karakter generasi muda. Gagasannya dituangkan dalam sebuah kajian daerah berjudul “Buku Cerita Anak Dwibahasa Berbasis Kearifan Lokal untuk Penguatan Literasi dan Karakter Anak” atau disingkat “BCA DKL”.

Buku ini dirancang bukan sekadar bahan bacaan, melainkan jembatan untuk mengenalkan nilai-nilai luhur, tradisi, dan kearifan masyarakat Barito Selatan kepada anak-anak sejak dini.


“Menjaga Akar Budaya di Era Digital”
Syasa Azim menilai literasi hari ini harus melampaui soal baca dan tulis. Lebih dari itu, anak-anak perlu memahami identitas dan asal-usulnya.
“Literasi itu bukan hanya mengeja huruf. Tapi bagaimana anak-anak kita tahu siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan apa yang menjadi kekayaan budayanya,” kata Syasa saat menjelaskan latar belakang inovasinya.
Ia khawatir, jika tidak segera dibekali, anak-anak akan mudah tergerus budaya asing.
“Melalui BCA_DKL kita ingin mencetak anak yang bisa berpikir global, tapi tetap berpijak di tanah kelahirannya. Jangan sampai kearifan lokal kita punah karena tidak diwariskan,” tegasnya.
“Cerita Bilingual, Pesan Penuh Makna”
Keunikan BCA DKL terletak pada pendekatan dwibahasanya. Setiap cerita disajikan dalam 2 bahasa agar anak-anak terbiasa sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa, tanpa menghilangkan muatan lokal.
Isi ceritanya mengangkat seni, tradisi, dan petuah bijak khas Barito Selatan. Kemasannya dibuat ramah anak dengan bahasa sederhana dan ilustrasi menarik agar anak betah membaca.
Saat ditanya BarselOne 17 Maret 2025 Syasa berharap kajian ini tidak berhenti di atas kertas. Ia mengajak Pemkab Barito Selatan, sekolah, guru, hingga komunitas literasi untuk bersama-sama mengimplementasikan buku ini sampai ke pelosok desa di Kalimantan Tengah.
“Harapannya, lewat BCA DKL indeks literasi daerah naik, dan lahir generasi Barito Selatan yang cerdas, berkarakter, serta bangga dengan budayanya sendiri,” pungkasnya ( Ary Mampas)



