Buntok BarselOne,-Di era digital, budaya tak lagi harus terkunci di desa-desa. Norhasanah, pendiri Komunitas Literasi Malawen Buntok, membuktikan itu. Melalui Kajian Inovasi daerah yang berjudul“Kolaborasi Literasi Digital dan Budaya Lokal di Barito Selatan“, ia mengubah cerita para tetua adat menjadi e-book dan podcast agar dikenal hingga mancanegara.


Perkembangan teknologi menjadi jembatan emas bagi Norhasanah untuk memperkenalkan kekayaan Barito Selatan ke dunia luar. Ia menilai, jika tidak diadaptasi, kebudayaan daerah akan mudah terlupakan oleh generasi muda.
Dari situlah lahir 4 pilar gerakan Komunitas Literasi Malawen Buntok :
1. Pengarsipan budaya ke e-book
2. Produksi podcast literasi
3. Pelatihan menulis berkala
4. Pembinaan generasi muda berkelanjutan


“Kami tidak ingin kebudayaan Barito Selatan hanya menjadi cerita masa lalu yang terkunci di desa-desa. Melalui media digital seperti e-book dan podcast, serta penguatan kapasitas anak muda lewat pelatihan menulis, kami membuka pintu selebar-lebarnya agar masyarakat luar daerah hingga mancanegara bisa mengenal mendalam adat dan tradisi kita,” ujar Norhasanah saat ditemui di Buntok, Selasa 9/12/2025.
“Strategi Turun Langsung ke Lapangan”
Tim Malawen bergerak ke desa-desa untuk riset dan mewawancarai tetua adat. Hasil wawancara kemudian dikemas jadi 2 produk utama: buku digital berisi informasi visual dan podcast literasi dengan gaya santai dan interaktif.
Agar tongkat estafet tidak putus, komunitas ini juga rutin menggelar pelatihan menulis. Tujuannya: membekali anak muda Barito Selatan agar bisa mendokumentasikan kearifan lokalnya sendiri ke dalam karya tulis yang layak publikasi.
Norhasanah berharap inovasi multiplatform ini bisa mendongkrak indeks literasi daerah dan sekaligus menjadi media promosi pariwisata budaya Barito Selatan di ranah digital ( Ary Mampas)



