Kapuas Barat Mandomai BarselOne,-Di tepi Sungai Kapuas yang tenang, di Desa Mandomai, Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas, berdiri kokoh sebuah bangunan bersejarah yang menjadi penanda peradaban. Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Imanuel Mandomai. Gereja ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan salah satu gereja tertua di Kalimantan yang menjadi saksi bisu awal mula penyebaran kekristenan di tanah Dayak sejak abad ke-19.

Jika Kapuas dikenal dengan julukan Kota Air, maka GKE Imanuel Mandomai adalah mercusuar imannya. Dari sinilah, cahaya Injil pertama kali menyebar ke pedalaman Kalimantan Tengah, membentuk identitas, pendidikan, dan persatuan suku Dayak yang bertahan hingga kini.
Sejarah GKE Imanuel Mandomai tidak bisa dilepaskan dari misi Basler Mission atau Misi Basel dari Jerman/Swiss. Pada tahun 1850-an, para zendeling (misionaris) asal Eropa tiba di Banjarmasin dan kemudian menyusuri Sungai Kapuas dan Barito. Mereka memilih Mandomai sebagai salah satu pusat pekabaran Injil karena lokasinya yang strategis di jalur perdagangan sungai.
Gereja ini dibangun dengan visi yang jauh melampaui ibadah. Para misionaris mendirikan sekolah, mengajarkan baca tulis, dan memperkenalkan pertanian modern kepada masyarakat Dayak Ngaju yang saat itu masih hidup dalam tradisi Kaharingan. GKE Imanuel Mandomai menjadi pusat pendidikan pertama di wilayah Kapuas Barat. Banyak tokoh Dayak, mantir dan damang adat pada masa itu, disekolahkan di sini.
“Gereja ini adalah sekolah pertama, rumah sakit pertama, dan balai pertemuan pertama bagi masyarakat kami. Kakek buyut kami belajar huruf di sini,” ujar salah seorang tetua jemaat Mandomai.
“Arsitektur Indische: Ketika Eropa Bertemu Dayak”
Memasuki halaman gereja, pengunjung akan langsung disambut keunikan arsitekturnya. GKE Imanuel Mandomai dibangun dengan gaya “Indische” , sebuah perpaduan cerdas antara arsitektur kolonial Eropa dengan kearifan lokal Dayak.
Bangunan utamanya didominasi kayu ulin (kayu besi) pilihan yang terkenal tahan ratusan tahun. Tiang-tiang penyangga yang tinggi, jendela-jendela besar dengan ventilasi silang ala rumah Betang, dan atap yang curam untuk menyesuaikan iklim tropis yang lembab adalah adaptasi lokal. Sementara itu, bentuk menara yang simetris, pintu lengkung, dan tata ruang yang simetris menunjukkan sentuhan Eropa yang kental.
Di dalam, ruang ibadah terasa sejuk tanpa AC. Lantai kayu ulin yang masih asli berderit halus, menjadi saksi jutaan langkah kaki jemaat selama lebih dari satu abad. Bangunan ini sengaja dibangun menghadap Sungai Kapuas, karena pada masa itu sungai adalah jalan tol utama.
“Tiga Kaca Mozaik dari Jerman 1910, Bukti Hubungan Lintas Benua”
Keistimewaan paling berharga dari GKE Imanuel Mandomai terletak di bagian altar. Di sana terpasang “tiga kaca mozaik (stained glass) yang dibuat khusus di Jerman pada tahun 1910.”
Kaca-kaca tersebut didatangkan langsung dari Jerman melalui jalur laut yang panjang: dari Sungai Rhein ke Hamburg, menyeberangi Samudra Hindia, masuk ke Banjarmasin, lalu disusuri lagi lewat Sungai Kapuas Murung hingga ke Mandomai. Sebuah perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan pada masa itu.
Motif pada kaca mozaik menggambarkan kisah-kisah Alkitab dengan warna yang hingga kini masih cerah dan tidak pudar. Sinar matahari pagi yang menembus kaca tersebut menciptakan bias cahaya warna-warni di dalam gereja, menciptakan suasana sakral yang magis. Keberadaan kaca ini menegaskan bahwa Mandomai pada awal abad ke-20 bukanlah desa terpencil, melainkan bagian dari jaringan global kekristenan yang terhubung langsung dengan Eropa.
“Ini bukti bahwa iman telah menghubungkan Dayak di pedalaman Kapuas dengan dunia internasional sejak 115 tahun lalu. Nilainya tidak ternilai,” tambah sumber gereja.
“Cagar Budaya yang Hidup“
Saat ini, GKE Imanuel Mandomai telah ditetapkan sebagai *cagar budaya*. Namun fungsinya tidak menjadi museum mati. Setiap hari Minggu, lonceng tua peninggalan Belanda masih berdentang, memanggil jemaat dari berbagai penjuru Mandomai dan sekitarnya untuk beribadah dengan bahasa Dayak Ngaju dan Indonesia.
Gereja ini menyimpan cerita tentang iman, tentang pendidikan yang mencerdaskan, dan tentang peran sosial yang mempersatukan suku Dayak di masa lalu. Di saat konflik adat sering terjadi, gereja inilah yang menjadi penengah, menjadi rumah damai.
Pemerintah Kabupaten Kapuas melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata diharapkan dapat terus melestarikan GKE Imanuel Mandomai sebagai destinasi wisata religi dan sejarah. Perlu dukungan untuk konservasi kayu ulin, pelestarian kaca mozaik Jerman, serta penataan kawasan tepi sungai agar generasi muda Kapuas tidak kehilangan jejak akarnya.
GKE Imanuel Mandomai bukan hanya milik jemaat GKE. Ia adalah milik seluruh masyarakat Kapuas, milik Kalimantan, dan warisan iman Indonesia ( Ary Mampas)



