Oleh : Ary Mampas
Wartawan dan Penulis
Menurut saya, kenapa di era Prabowo terasa kelihatan kacau dibanding di era Jokowi, jawabannya justru sederhana dan sangat mendasar: karena Presiden sekarang sedang melawan koruptor, mafia, oligarki, pihak asing dan backingannya.

Di era sebelumnya, kekuasaan terasa tenang. Bukan karena tidak ada masalah, tetapi karena banyak pihak yang merasa nyaman. Semua jalur sudah tertata, semua kepentingan sudah terbagi, semua pemain sudah saling memahami posisinya. Tidak ada yang diganggu, tidak ada yang diusik, tidak ada yang dibongkar.Maka wajar jika suasana tampak stabil, tampak rapi, tampak tidak ada gejolak.
Sekarang berbeda. Presiden Prabowo Subianto datang bukan untuk sekadar melanjutkan kenyamanan itu. Beliau datang untuk membongkar. Beliau datang untuk membereskan apa yang selama ini dibiarkan mengakar. Dan ketika sarang mafia dibongkar, tentu yang ada di dalamnya akan memberontak. Ketika jalur korupsi diputus, tentu mereka yang selama ini hidup dari jalur itu akan marah. Ketika oligarki merasa kekuasaannya mulai goyah, tentu mereka akan melawan dengan segala cara.
Inilah yang menurut saya membuat suasana di era Prabowo terasa kacau. Kekacauan itu bukan berasal dari pemerintah. Kekacauan itu adalah reaksi dari mereka yang terganggu kepentingannya.
Lihatlah polanya. Setiap kebijakan yang menyentuh sumber daya alam, setiap langkah yang menyentuh tambang, sawit, pangan, energi, laut, dan kekayaan negara lainnya, selalu langsung disambut dengan serangan opini. Setiap ketegasan Presiden selalu dibalas dengan narasi negatif. Setiap upaya penyelamatan aset negara selalu diikuti dengan framing seolah-olah pemerintah gagal, pemerintah otoriter, pemerintah tidak mampu.
Mereka menyerang dengan media sosial untuk membuat kekacauan. Ini adalah senjata baru yang sangat efektif. Dulu untuk menjatuhkan sebuah pemerintahan dibutuhkan demo besar, dibutuhkan kekuatan jalanan, dibutuhkan biaya besar. Sekarang cukup dengan ribuan akun, buzzer, video potongan, meme, judul yang provokatif, dan narasi yang diulang-ulang. Dalam hitungan menit, kebohongan bisa berubah menjadi seolah-olah kebenaran. Dalam hitungan jam, ketakutan bisa menular ke jutaan orang.
Tujuannya jelas: membuat rakyat tidak percaya kepada pemimpinnya sendiri. Membuat rakyat bingung, membuat rakyat lelah, membuat rakyat merasa negara ini sedang hancur, padahal yang sedang dihancurkan adalah jaringan mafia yang selama ini menggerogoti negara.
Apalagi tujuannya adalah sumber daya alam kita yang kaya. Indonesia ini bukan negara biasa. Kita punya tambang yang melimpah, punya laut yang luas, punya hutan, punya sawit, punya nikel, punya batubara, punya emas, punya energi, punya pangan, punya posisi geopolitik yang sangat strategis. Siapa yang tidak tergiur? Pihak asing tentu ingin tetap menguasai, ingin tetap menikmati, ingin tetap mengatur dari jauh. Oligarki lokal tentu ingin menjadi perpanjangan tangan mereka. Koruptor tentu ingin menjadi makelarnya.
Selama puluhan tahun, pola itu berjalan mulus. Kekayaan Indonesia mengalir keluar, sementara rakyat hanya mendapatkan sisa-sisanya. Rakyat disuruh bersabar, rakyat disuruh menunggu, rakyat disuruh percaya bahwa pembangunan sedang berjalan, padahal yang makin kaya hanyalah segelintir orang.
Kini ketika Presiden Prabowo mencoba memutus rantai itu, ketika beliau berbicara tentang kemandirian pangan, kemandirian energi, hilirisasi, penyelamatan aset negara, dan kedaulatan nasional, maka semua pihak yang selama ini diuntungkan oleh ketergantungan Indonesia mulai ketakutan. Mereka tahu, jika Indonesia benar-benar berdaulat, maka pesta mereka akan berakhir.
Maka jangan heran jika setiap hari kita disuguhi berita-berita yang membuat kita cemas. Jangan heran jika media sosial dipenuhi dengan ujaran kebencian, fitnah, dan adu domba. Itu bukan kebetulan. Itu adalah strategi. Mereka ingin kita bertengkar sesama anak bangsa, sementara mereka terus mengeruk kekayaan kita dari belakang layar.
Mereka ingin kita membenci Presiden kita sendiri. Mereka ingin kita merasa bahwa semua upaya pemerintah adalah sia-sia. Mereka ingin kita menyerah dan berkata, sudahlah, kembalikan saja ke cara lama yang tenang, yang tidak ribut, yang tidak gaduh. Padahal cara lama yang tenang itu adalah cara lama yang membuat kita tetap dijajah secara ekonomi.
Menurut saya, justru kekacauan yang kita rasakan hari ini adalah tanda bahwa perlawanan itu nyata. Kalau Presiden tidak melawan siapa-siapa, tidak akan ada yang menyerang. Kalau Presiden tidak mengusik siapa-siapa, tidak akan ada kegaduhan. Kegaduhan ini adalah bukti bahwa ada yang sedang dibongkar. Ada sarang yang sedang dibersihkan. Ada luka lama yang sedang diobati, dan proses mengobati luka memang terasa perih.
Kita harus jujur. Era Jokowi punya kelebihan, punya pencapaian, punya pembangunan yang bisa kita hargai. Tetapi kita juga harus berani melihat bahwa di era itu, masih banyak mafia yang tidak tersentuh, masih banyak oligarki yang makin kuat, masih banyak koruptor yang merasa aman. Pembangunan berjalan, tetapi di balik pembangunan itu, masih ada permainan-permainan gelap yang tidak pernah benar-benar diberantas sampai ke akar-akarnya.
Presiden Prabowo kini mencoba menyelesaikan pekerjaan rumah yang tertunda itu. Dan itu bukan pekerjaan mudah. Melawan koruptor yang punya uang tidak terbatas, melawan mafia yang punya jaringan di semua lini, melawan oligarki yang punya media, melawan pihak asing yang punya kekuatan global, itu membutuhkan keberanian yang luar biasa. Tidak semua pemimpin berani melakukannya.
Karena itu, menurut saya, sudah saatnya rakyat tidak lagi mudah terprovokasi. Sudah saatnya kita belajar membedakan mana kritik yang tulus dan mana serangan yang dibayar. Sudah saatnya kita tidak menelan mentah-mentah setiap video viral, setiap potongan pernyataan, setiap judul berita yang sengaja dibuat untuk memancing emosi. Kita harus lebih cerdas, lebih tenang, dan lebih setia kepada kepentingan bangsa.
Jangan biarkan media sosial menjadi alat untuk menghancurkan negeri kita sendiri. Media sosial seharusnya menjadi alat untuk mempersatukan, untuk mengedukasi, untuk mengawal pembangunan, bukan untuk menyebarkan kebencian dan kekacauan.
Mari kita dukung Bapak Prabowo Subianto menuju Indonesia Maju. Dukung bukan berarti membabi buta. Dukung berarti mengawal, mendoakan, memberikan masukan yang membangun, dan tidak ikut menyebarkan fitnah yang justru menguntungkan musuh bangsa. Dukung berarti berdiri bersama Presiden ketika beliau sedang berjuang melawan kekuatan-kekuatan besar yang tidak ingin Indonesia maju.
Indonesia Maju bukan sekadar slogan. Indonesia Maju adalah cita-cita bahwa kekayaan alam Indonesia harus dinikmati oleh rakyat Indonesia. Bahwa anak-anak kita tidak lagi menjadi penonton di negerinya sendiri. Bahwa petani, nelayan, buruh, guru, dan seluruh rakyat kecil bisa hidup lebih sejahtera. Bahwa Indonesia bisa berdiri tegak, tidak tunduk kepada kepentingan asing, tidak tunduk kepada oligarki, tidak tunduk kepada mafia.
Perjalanan menuju Indonesia Maju itu memang tidak akan mulus. Akan ada guncangan, akan ada fitnah, akan ada kekacauan yang sengaja diciptakan. Tetapi jika kita bersatu, jika kita tidak mudah diadu domba, jika kita tetap percaya kepada pemimpin yang sedang berjuang untuk kedaulatan bangsa, maka saya yakin Indonesia akan melewati masa sulit ini dan keluar menjadi negara yang jauh lebih kuat, lebih berdaulat, dan lebih bermartabat.
Sekarang pilihannya ada di tangan kita. Mau ikut menjadi bagian dari kekacauan yang diciptakan oleh mafia dan oligarki, atau mau menjadi bagian dari barisan yang menjaga Indonesia agar tetap maju? Saya memilih yang kedua. Saya memilih untuk mendukung Bapak Prabowo Subianto menuju Indonesia Maju… Merdeka 🤝🤝🤝
Buntok 5 November 2026..
