Buntok BarselOne,-Udara di Barito Selatan dalam beberapa bulan terakhir tidak lagi bersahabat. Kabut asap yang datang bersama musim kering membuat langit tampak kelabu, jarak pandang memendek, dan yang paling mengkhawatirkan, napas warga mulai terganggu.

Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang cukup signifikan. Bukan sekadar naik sedikit, tetapi meningkat tajam dalam tiga bulan terakhir seiring pekatnya kabut asap dan kekeringan yang melanda wilayah ini.
Kepala Dinas Kesehatan Barsel menyampaikan peringatan itu saat ditemui di Buntok, Selasa 2 November 2026. Dengan wajah serius, ia menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa dianggap sepele, karena hawa nya masih terasa setelah dilanda kabut asap dan kini kita Barito Selatan mulai di guyur hujan..
“Baik Dinas Kesehatan, Rumah Sakit maupun Puskesmas, serta beberapa OPD kami juga memakai masker. Ini untuk mengantisipasi paparan kabut asap dan debu,” Panas saat ini ujarnya.
Instruksi memakai masker itu bukan hanya untuk tenaga kesehatan. Seluruh jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkup Pemkab Barsel saat ini juga sudah diminta untuk memakai masker saat beraktivitas, baik di dalam ruangan maupun saat bertugas di lapangan.
Angka yang disampaikan Dinas Kesehatan cukup membuat banyak pihak waspada. Dari Januari sampai dengan 25 Oktober 2026 lalu jumlah kasus ISPA di Kabupaten Barito Selatan mencapai 10.306 orang.
Itu artinya, rata-rata setiap bulan ada lebih dari seribu warga yang datang ke Puskesmas dan Rumah Sakit dengan keluhan batuk, pilek, sesak napas, sakit tenggorokan, hingga demam yang tak kunjung sembuh.
Peningkatan itu sejalan dengan memburuknya kualitas udara. Saat kabut asap menebal, partikel-partikel halus dari pembakaran dan debu kering mudah masuk ke saluran pernapasan. Anak-anak, lansia, penderita asma, dan warga yang memiliki riwayat penyakit paru menjadi kelompok yang paling rentan.
Di beberapa Puskesmas, antrean pasien ISPA dilaporkan mulai bertambah. Sebagian besar datang dengan keluhan batuk berdahak, pilek berkepanjangan, dan mata perih akibat paparan asap.
Yang membuat situasi ini semakin kompleks, lonjakan tidak hanya terjadi pada ISPA. Dinas Kesehatan juga mencatat ada peningkatan di luar kasus ISPA, salah satunya diare.
“Ada peningkatan di luar kasus ISPA seperti diare. Keterkaitannya dimana terjadi kekurangan sumber air bersih. Namun kekurangan air bersih sudah diantisipasi oleh Pemda melalui Dinas PUPR Barito Selatan,” jelasnya.
Kekeringan yang berkepanjangan menyebabkan sejumlah sumber air warga menyusut. Sumur mengering, sungai surut, dan kualitas air menurun. Kondisi inilah yang kemudian memicu munculnya penyakit berbasis air seperti diare.
Pemerintah daerah melalui Dinas PUPR Barito Selatan, menurut Dinkes, sudah bergerak untuk mengantisipasi kekurangan air bersih tersebut, termasuk dengan penyaluran air bersih ke wilayah-wilayah yang terdampak.
Meski terjadi lonjakan, Kepala Dinas Kesehatan memastikan masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Pelayanan kesehatan di Barito Selatan masih berjalan normal dan terkendali.
“Meskipun ada lonjakan beberapa bulan terakhir namun penyakit ISPA masih dapat ditanggulangi baik dari Puskesmas maupun Rumah Sakit. Obat-obatan dan tenaga medis kita masih cukup,” pungkasnya.
Seluruh Puskesmas di 6 kecamatan diminta untuk tetap siaga, memastikan stok obat batuk, antibiotik sesuai indikasi, vitamin, dan masker tersedia. Rumah Sakit Daerah juga diminta untuk memperkuat pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan poli paru.
Dinas Kesehatan juga terus melakukan pemantauan harian terhadap perkembangan kasus ISPA dan diare, agar jika terjadi lonjakan yang lebih besar, langkah penanganan bisa segera diambil.
Di akhir penyampaiannya, Kepala Dinas Kesehatan Barsel menyampaikan imbauan yang sederhana namun penting untuk keselamatan warga.
Ia mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak penting, memperbanyak minum air putih, dan selalu menggunakan masker.
Masker, kata dia, saat ini bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi pelindung pertama dari kabut asap dan debu yang tidak terlihat mata.
“Banyak orang menganggap batuk biasa. Padahal kalau terus terpapar asap tanpa masker, bisa menjadi lebih berat. Apalagi untuk anak-anak dan lansia, jangan dipaksakan keluar rumah saat asap sedang tebal,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan warga untuk menjaga kebersihan, mencuci tangan dengan sabun, memastikan air yang dikonsumsi benar-benar matang dan bersih, serta segera memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat jika batuk, pilek, demam, atau diare tidak membaik dalam 3 hari.
Kisah kabut asap di Barito Selatan ini bukan pertama kali terjadi. Setiap musim kemarau, persoalan yang sama selalu berulang. Yang membedakan tahun ini adalah respons yang lebih cepat dan keterbukaan data dari Dinas Kesehatan.
Pemerintah Kabupaten Barito Selatan berharap, dengan kesadaran bersama untuk memakai masker, menjaga asupan cairan, dan mengurangi aktivitas luar ruangan, lonjakan kasus ISPA bisa ditekan sebelum memasuki fase yang lebih berbahaya.
Sebab pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya angka 10.306 di atas kertas. Tetapi napas dan kesehatan ribuan warga Barito Selatan yang setiap hari harus bertahan di tengah kepungan kabut asap dan kekeringan ( Ary Mampas)
