“Oleh: Ary Mampas Wartawan dan Penulis”

Kebebasan berpendapat itu hak kita semua. Mahasiswa boleh bersuara, wajib bersuara. Tapi ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama: jangan sampai kebebasan itu membawa kita terlalu jauh hingga menabrak dinding adab.
Akhir-akhir ini saya melihat sebuah fenomena yang membuat miris. Ruang demokrasi kita yang seharusnya diisi adu gagasan, justru berubah menjadi panggung makian. Simbol negara, Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, semua dihina dengan kata-kata yang bahkan tidak pantas kita ucapkan kepada tetangga sendiri.
Coba kita buka Facebook, TikTok, Instagram. Apa yang kita lihat? Hujatan. Caci maki. Ejekan yang tanpa rem. Seolah-olah tidak ada lagi batas antara kritik dan penghinaan.
Pertanyaannya, di mana empati kita sebagai netizen…?
Sosok yang hari ini kalian serang habis-habisan di kolom komentar itu, sesungguhnya adalah orang tua kita juga.
Ingatkah Tujuan kita sekolah untuk menjadi orang yang sukses dan bahkan cita-cita ingin menjadi seorang Pejabat di Pemerintah ,nah, bagaimana bila kalian menjadi pejabat Itu kelak…?
Ingat,Dia lah yang menandatangani kebijakan agar ribuan mahasiswa, kawan-kawan kalian sendiri, bisa tetap kuliah dengan tenang tanpa dikejar bayang-bayang UKT yang mahal.
Ingat,Dia yang memikirkan nasib puluhan ribu pelajar di pelosok, agar mereka bisa masuk sekolah dengan baju seragam baru, sepatu baru, tanpa membuat ayah ibunya menangis karena tidak punya uang.
Ingat,Dia yang memastikan ketika warga sakit, mereka tidak ditolak di rumah sakit. Ada jaminan kesehatan yang bisa mereka pegang.
Ingat,Dia yang setiap bulannya menyisihkan perhatian untuk dapur mahasiswa rantau, agar sembako tetap ada, agar mereka tetap bisa fokus belajar.
Ingat,Lewat tangan kebijakannya, ratusan ribu kepala keluarga di daerah ini pernah dibantu, pernah diringankan bebannya.
Apakah semua kebijakannya sempurna? Tidak. Tentu masih banyak bolong di sana-sini.
Apakah boleh dikritik ? Sangat boleh. Bahkan harus.
Tapi yang menyakitkan hari ini adalah…
Tapi ,Hanya karena satu persoalan, yang bahkan mungkin bukan sepenuhnya menjadi wewenangnya, tiba-tiba semua kebaikan itu dianggap tidak ada. Semua jasa itu seolah lenyap dalam semalam, tertutup oleh amarah.
Takan ketun sangit,jiteĀ hak ketun.
Takan ketun kecewa, jite manusiawi.
Takan ketun kritik setajam mungkin,jite hak mahasiswa..
Namun satu yang jangan sampai hilang: jangan biarkan amarah mencabut adab dari diri kita. Jangan sampai kita lupa, orang yang kita kritik itu juga manusia biasa.
Manusia yang usianya terus menua karena beban tanggung jawab. Uban di kepalanya bukan untuk mencari pujian, tapi tanda bahwa setiap malam ia memikirkan nasib orang banyak.
Ia mungkin belum bisa mewujudkan semua mimpi kita, tapi ia sudah berusaha membuat hidup orang lain terasa lebih ringan, walau sedikit.
Ingat, mahasiswa itu bukan kaum pengumpat, tapi kaum pemikir. Seharusnya lisan dan tulisan mahasiswa mencerminkan kedalaman ilmunya, bukan kedalaman kebenciannya. Kritik mahasiswa itu harusnya menguliti kebijakan yang salah, bukan menguliti harga diri seseorang.
Suatu hari nanti, ketika kalian sendiri yang berdiri di posisi itu, memikul amanah di pundak kalian, kalian akan paham…
Bahwa duduk di kursi pengambil keputusan jauh lebih berat daripada sekadar berteriak salah dari luar ruangan. Bahwa memimpin jauh lebih sulit daripada menghina dari balik layar ponsel.
Saya doakan kalian semua menjadi pemimpin hebat di masa depan.
Hebat bukan hanya karena cerdas dan berani, tapi hebat karena masih punya hati nurani. Hebat karena tetap tahu cara memuliakan orang lain, bahkan saat kalian sedang berjuang untuk kebenaran.
Karena pada akhirnya, orang akan lupa seberapa keras perdebatan kita hari ini.
Tapi orang tidak akan pernah lupa, bagaimana rasanya diperlakukan dengan tidak beradab.
“Ilmu bisa dicari, tapi adab adalah cerminan diri.”


