Buntok BarselOne,-Barito Selatan kini benar-benar sedang diuji oleh cuaca. Bukan hanya panas yang terasa lebih menyengat dari biasanya, tapi juga dampaknya yang sudah merembet ke mana-mana: ke lahan, ke sumur warga, hingga ke sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan.

Pemerintah Kabupaten Barito Selatan akhirnya menetapkan sikap siaga penuh menghadapi cuaca ekstrem ini. Bukan sekadar siaga biasa, melainkan siaga yang menyentuh langsung kebutuhan paling dasar masyarakat: api dan air.
Di satu sisi, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menghantui. Di sisi lain, warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur-sumur mereka mengering dan air sungai yang biasanya jernih kini berubah keruh, kotor, dan tidak lagi layak dikonsumsi untuk kebutuhan rumah tangga.
“Ini bukan kondisi biasa. Cuaca ekstrem ini sudah berdampak langsung ke kehidupan warga. Karena itu kita harus siaga bersama,” ujar Asisten II Sekretariat Daerah Barito Selatan, Yoga P Utomo, mewakili Bupati Barito Selatan, Eddy Raya Samsuri, dalam rapat evaluasi di Buntok, Jumat 6 November 2026
Cuaca ekstrem yang melanda Barito Selatan dalam beberapa pekan terakhir membuat lahan-lahan menjadi sangat kering. Lahan gambut yang biasanya lembap, kini mudah sekali terbakar. Semak belukar yang mengering hanya butuh percikan kecil untuk berubah menjadi kobaran api.
Kondisi inilah yang membuat Pemkab Barito Selatan memutuskan untuk kembali memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan ekstrem untuk ketiga kalinya, selama 20 hari ke depan.
Keputusan itu diambil bukan karena ingin menakut-nakuti warga, tapi karena hasil kaji cepat di lapangan menunjukkan bahaya belum berlalu. Titik-titik panas masih berpotensi muncul, angin kering masih bertiup, dan prediksi cuaca masih menunjukkan belum ada hujan merata dalam waktu dekat.
“Keselamatan dan ketenteraman masyarakat Barito Selatan menjadi prioritas utama pemerintah,” tegas Yoga.
Pemkab menginstruksikan seluruh posko siaga di tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa untuk dioptimalkan. Personel dan armada pemadam diminta siap bergerak cepat begitu ada laporan titik api. Tidak boleh ada keterlambatan, karena dalam hitungan menit api kecil bisa berubah menjadi kebakaran besar yang sulit dipadamkan.
“Kami minta pergerakan personel dan armada pemadam dapat menjangkau titik api secepat mungkin,” ujar Yoga.
Bagi petugas di lapangan, ini berarti kesiagaan tanpa henti. Mereka berjaga di posko, memantau laporan, dan siap turun kapan saja, siang maupun malam.
Namun, yang paling dirasakan warga saat ini bukan hanya soal api. Melainkan soal air.
Di sejumlah desa di Barito Selatan, sumur-sumur warga mulai mengering. Sumur yang dulu tidak pernah kering meski kemarau panjang, kini airnya menyusut drastis. Ada yang tinggal tersisa lumpur di dasarnya, ada yang sudah benar-benar kering dan tidak bisa lagi ditimba.
Bagi keluarga di desa, sumur adalah segalanya. Untuk mandi, mencuci, memasak, memberi minum ternak, hingga menyiram tanaman. Ketika sumur kering, aktivitas rumah tangga seketika terganggu.
“Biasanya kalau kemarau, sumur kami masih ada airnya. Tapi sekarang, sudah beberapa hari ini sumur kami kering. Kami harus menumpang ke sumur tetangga atau menunggu bantuan air,” cerita seorang warga yang kini harus berhemat air setiap hari.
Kondisi ini membuat warga harus mengatur ulang cara hidupnya. Mandi yang biasanya dua kali sehari, dikurangi. Mencuci pakaian ditunda hingga ada air. Bahkan untuk memasak pun harus dihitung cermat agar air tidak habis sebelum bantuan datang.
Ketika sumur kering, warga biasanya akan beralih ke sungai. Sungai Barito dan anak-anak sungainya selama ini menjadi tumpuan kedua bagi warga Barito Selatan. Tapi tahun ini, harapan itu pun mulai pupus.
Air sungai kini berubah keruh, kotor, dan tidak bisa lagi dikonsumsi untuk kebutuhan rumah tangga. Debit air menurun, lumpur naik, dan air yang mengalir tampak pekat kecoklatan, bercampur dengan sampah dan endapan.
Warga yang biasanya menggunakan air sungai untuk mandi dan mencuci kini mulai ragu. Jangankan untuk diminum dan memasak, untuk mandi saja airnya terasa gatal dan meninggalkan bau lumpur di badan.
“Air sungai sekarang keruh sekali, kotor. Tidak bisa dipakai untuk masak, apalagi untuk minum. Untuk mandi saja kami takut, karena badan jadi gatal,” keluh warga lainnya.
Kondisi sungai yang keruh ini menjadi pukulan ganda bagi warga. Di saat sumur kering, sungai yang diharapkan menjadi penyelamat justru tidak bisa lagi diandalkan. Warga pun kini benar-benar bergantung pada bantuan air bersih dari pemerintah dan gotong royong antar sesama.
Melihat kondisi tersebut, Pemkab Barito Selatan langsung memerintahkan percepatan distribusi bantuan air bersih ke desa-desa yang mulai mengalami krisis.
Armada pengangkut air diminta terus bergerak, menyalurkan air bersih ke desa-desa yang paling membutuhkan. Data desa krisis terus diperbarui, agar tidak ada desa yang terlewat.
Bantuan air bersih ini bukan lagi sekadar bantuan tambahan. Bagi warga, ini adalah kebutuhan utama yang menentukan apakah dapur mereka hari ini bisa mengepul atau tidak, apakah anak-anak mereka bisa mandi sebelum berangkat sekolah atau tidak.
Selain itu, Pemkab juga memastikan logistik bagi petugas di lapangan terpenuhi. Mereka yang berjaga di posko, memadamkan api, dan mengantar air bersih, juga membutuhkan makan, minum, dan istirahat yang cukup agar bisa terus bertugas.
Di tengah cuaca ekstrem ini, Pemkab Barito Selatan mengajak seluruh masyarakat untuk ikut siaga.
Pertama, jangan membakar lahan dalam kondisi apa pun. Lahan yang kering sangat mudah terbakar dan api bisa merembet dengan cepat ke pemukiman warga.
Kedua, hemat penggunaan air. Gunakan air seperlunya, tampung air hujan jika turun, dan jangan membuang-buang air bersih untuk hal yang tidak perlu.
Ketiga, segera melapor jika melihat titik api atau jika desa mulai mengalami krisis air. Laporan yang cepat akan membuat penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
Keempat, jaga sungai dan lingkungan. Jangan membuang sampah ke sungai, karena sungai yang sudah keruh akan semakin kotor dan semakin tidak bisa digunakan.
Perpanjangan status tanggap darurat untuk ketiga kalinya ini menjadi tanda bahwa Barsel belum boleh lengah. Cuaca ekstrem belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Karhutla masih mengintai, sumur masih kering, dan sungai masih keruh.
Tapi di balik semua kesulitan itu, ada harapan yang terus dijaga: bahwa dengan siaga bersama, dengan posko yang tetap buka, personel yang tetap berjaga, armada yang tetap bergerak, dan air bersih yang terus didistribusikan, Barito Selatan bisa melewati masa sulit ini.
Warga yang selama ini kuat menghadapi kemarau, kini diminta untuk lebih kuat lagi. Saling membantu, saling mengingatkan, dan saling menjaga.
Karena dalam cuaca ekstrem seperti ini, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan dari pemerintah, tapi juga kepedulian dari sesama warga Barito Selatan itu sendiri.
Buntok siaga. Desa-desa siaga. Semua siaga menghadapi cuaca ekstrem, demi api tidak menyala, demi air tetap mengalir, dan demi warga Barito Selatan tetap aman ( Ary Mampas)
