Buntok BarselOne,-Anggota DPRD Barito Selatan dari Kader Gerindra, Doktor Lisawanto, mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Barito Selatan yang menetapkan siaga penuh menghadapi cuaca ekstrem. Menurutnya, peringatan agar masyarakat waspada dan berhati-hati kini bukan lagi sekadar imbauan biasa, karena cuaca yang semakin tidak bersahabat sudah benar-benar menguji warga. Panas terasa lebih menyengat dari biasanya, dan dampaknya sudah merembet ke lahan yang mengering, sumur warga yang menyusut, hingga sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan.

Lisawanto mengatakan, cuaca ekstrem ini sudah menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat, yakni api dan air. Di satu sisi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menghantui, di sisi lain warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur mengering dan air sungai berubah keruh, kotor, serta tidak lagi layak dikonsumsi untuk kebutuhan rumah tangga. Karena itu, ia menilai sikap siaga penuh Pemkab sudah tepat dan harus didukung bersama.
“Ini bukan kondisi biasa. Cuaca ekstrem ini sudah berdampak langsung ke kehidupan warga. Karena itu kita harus siaga bersama,” ujar Lisawanto di Buntok, Jumat 6 November 2026. Ia menegaskan pemerintah tidak boleh menunggu sampai korban jatuh. Ketika lahan sudah kering, sumur sudah kering, dan sungai sudah keruh, maka negara harus hadir lebih cepat dan lebih nyata.
Ia mendukung keputusan Pemkab yang kembali memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan ekstrem untuk ketiga kalinya selama 20 hari, mulai 3 hingga 22 November 2026. Keputusan itu diambil berdasarkan kaji cepat di lapangan yang menunjukkan bahaya belum berlalu, titik panas masih berpotensi muncul, angin kering masih bertiup, dan hujan merata belum diprediksi turun dalam waktu dekat. “Keselamatan dan ketenteraman masyarakat Barito Selatan menjadi prioritas utama pemerintah,” tegasnya.
Lisawanto juga meminta seluruh posko siaga di tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa dioptimalkan, serta personel dan armada pemadam siap bergerak cepat begitu ada laporan titik api. Menurutnya, tidak boleh ada keterlambatan, karena dalam hitungan menit api kecil bisa berubah menjadi kebakaran besar yang sulit dipadamkan. “Kami minta pergerakan personel dan armada pemadam dapat menjangkau titik api secepat mungkin,” ujarnya.
Selain soal api, Lisawanto menyoroti krisis air yang paling dirasakan warga. Di sejumlah desa, sumur yang dulu tidak pernah kering kini tinggal lumpur atau bahkan kering total, sehingga warga harus menumpang ke sumur tetangga atau menunggu bantuan air. Sementara sungai yang diharapkan menjadi penyelamat justru keruh dan membuat badan gatal jika dipakai mandi. Karena itu, ia meminta distribusi air bersih dipercepat ke desa-desa krisis, data desa krisis terus diperbarui, dan logistik petugas lapangan terpenuhi agar tetap bisa bertugas.
Sebagai penutup, Lisawanto mengajak masyarakat ikut siaga dengan empat langkah sederhana: jangan membakar lahan dalam kondisi apa pun, hemat penggunaan air, segera melapor jika melihat titik api atau desa mulai krisis air, dan jaga sungai dengan tidak membuang sampah. Menurutnya, perpanjangan tanggap darurat ini menjadi tanda Barsel belum boleh lengah, namun dengan siaga bersama, posko tetap buka, armada tetap bergerak, dan air bersih terus didistribusikan, Barito Selatan bisa melewati masa sulit ini demi api tidak menyala, air tetap mengalir, dan warga tetap aman ( Ary Mampas)
