Palangkaraya BarselOne,– Dengan nada keras dan kecewa, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Mangkok Merah Borneo Bersatu (DPD MMBB) Provinsi Kalimantan Tengah, Ir. Endeh S. Hidik, mendesak Gubernur Kalimantan Tengah agar segera menetapkan Kalimantan Tengah sebagai Darurat Nasional.

Desakan itu disampaikan karena Pemerintah Daerah sudah tidak berdaya menghadapi bencana Karhutla dengan alat seadanya dan dana APBD yang seadanya.
“Segera tetapkan Darurat Nasional! Jangan tunggu mati semua! Pemerintah daerah tidak punya daya lagi. Mau pakai apa? Alat seadanya, dana APBD seadanya untuk melawan api yang membakar ribuan hektar. Ini harus dibantu dana dari pusat, sekarang juga!” tegas Ir. Endeh S. Hidik dengan suara lantang kepada BarselOne, Sabtu 25 Oktober 2026.
Ia menilai ada ketidakadilan yang sangat menyakitkan bagi masyarakat Kalimantan Tengah.
“Ingat! Banyak lahan batu bara, sawit di Kalteng ini yang dinikmati oleh orang luar. Mereka yang mengeruk hasil bumi kami. Mereka yang menikmati dari pusat. Kami di Kalimantan hanya jadi penonton! Kami hanya kebagian asapnya! Apakah itu adil?”
“HASIL BUMI KAMI MEREKA YANG MENIKMATI, KAMI ADALAH KORBAN! Kami yang sesak napas, anak-anak kami yang batuk, petani kami yang gagal panen. Mereka enak-enakan menikmati hasilnya di Jakarta, kami di sini mati pelan-pelan menghirup asap mematikan!” lanjutnya dengan nada geram.
Ir. Endeh menegaskan, MMBB sebagai rumah besar masyarakat Dayak tidak akan tinggal diam.
“Kami dari Mangkok Merah Borneo Bersatu tidak buta, tidak tuli, tidak bisu. Kami melihat penderitaan ini. Kalau negara tidak hadir, jangan salahkan kami kalau rakyat Dayak merasa dianaktirikan di tanahnya sendiri. Kami ini pemilik sah tanah Borneo !”
Ia menuntut Presiden dan Pemerintah Pusat segera membuka keran dana APBN dan menurunkan kekuatan penuh BNPB, TNI, Polri untuk memadamkan Karhutla di Kalteng.
“Tetapkan Darurat Nasional Mematikan itu sekarang ! Jangan banyak rapat, jangan banyak wacana. Turunkan bantuan! Selamatkan paru-paru dunia, selamatkan rakyat Kalimantan Tengah !” ( Ary Mampas)



